Tag Archive for gusdur

Kesederhanaan Habib Muhammad Rizieq Syihab ; “Jalan Nabi Jalan Penuh Onak Duri”

Oleh Rizki Ridyasmara

Kemarin pagi Habib Rizieq kembali dibawa polisi. Bersama puluhan anak buahnya, pemimpin organisasi massa Islam yang tak gentar dalam ber-amar maruf dan ber-nahyi munkar ini secara jantan mempersilakan polisi untuk bersama-sama menuju markas aparat negara tersebut.

Bukan sekali ini saja Sang Habib ‘berjalan beriringan’ dengan polisi. Bahkan dinginnya lantai penjara pun pernah dirasakannya. Dalam suatu pertemuan pribadi beberapa tahun lalu, Sang Habib berkata, “Jalan Nabi adalah jalan penuh onak dan duri. Jalan yang sunyi dan jalan yang kerap dipenuhi fitnah. Inilah dakwah Islam yang lurus, jalan para mujahid yang telah menjual nyawa dan kehidupannya semata untuk meninggikan kalimat Allah. Tidak semua orang mampu menelusuri jalan ini. Hanya orang-orang yang berani, punya nyali, dan mungkin sedikit nekat, yang mau menyusuri jalan yang tidak populer seperti ini.”

Saya mengangguk, terus memperhatikan uraiannya. Sang Habib mempersilakan saya minum teh hangat dari cangkir kuningan kecil. Setelah minum, kedua mata saya mengedarkan pandangan ke seluruh bagian rumah Habib yang juga dijadikan “markas besar” organisasi yang dipimpinnya.

Markas besar pakai tanda kutip. Soalnya markas besar yang ada di sekeliling saya—jujur saja—tidak layak disebut sebagai markas besar. Selain rumah Habib yang sangat-sangat sederhana, di sebelah kirinya berdiri sebuah ruangan kecil sebagai tempat perpustakaan dan barang-barang dagangan Sang Habib seperti tasbih, sorban, qur’an, aneka minyak wangi, dan lain-lain.

Di sebelah kanan rumah utama, berdiri sebuah ruangan yang lebih kecil lagi sebagai warung Sang Habib yang dipenuhi barang-barang dagangannya. Inilah Habib Rizieq yang sangat bersahaya dalam menjalani hidup. Isterinya, saya memanggilnya Umi, merupakan seorang perempuan yang sangat rendah hati dan tawadhu. Tak jarang dia menyapu sendiri halaman rumahnya atau bermain-main dengan anak-anaknya yang masih kecil dan lucu-lucu. Saya tidak pernah melihat khadimat (pembantu) di rumah ini.

Saya sudah berkali-kali mengunjungi rumah Habib, dari tahun ke tahun tidak ada perubahan yang berarti. Tetap dalam kesederhanaan dan ketawadhuannya. Dari jalan raya ke rumah sang Habib harus tetap menyusuri gang senggol sepanjang sepuluh meter dan pintu besinya yang rendah dan jarang di kunci yang itu-itu juga. Yang berubah hanya masjid yang berjarak sekitar tigapuluh meter dari rumah sang Habib, dulu masjid itu kecil, sekarang sudah lumayan besar. Read more

Antara Habib Muhammad Rizieq Syihab dan K.H. Abdurrahman Wahid (GUSDUR)

Apa yang dilakukan Habib Rizieq dan K.H Abdurrahman Wahid beberapa hari sebelum pecahnya bentrokkan di Monas, Ahad, 1 Juni 2008, Inilah faktanya:

Habib Muhammad Rizieq Syihab

Sejak pertengahan Mei 2008, Habib Rizieq memiliki kesibukan tersendiri dengan pengacara Indra Sahnun Lubis, SH, sahabatnya. Keduanya bukan tengah mengurus masalah hukum, namun tengah mempersiapkan seorang selebritis yang mau kembali ke Islam.

Kepada sang artis, Habib berkali-kali menanyakan apakah dirinya memang sungguh-sungguh ingin kembali ke Islam, bukan dengan paksaan atau ada motivasi lain selain hidayah dari Alah SWT. Sang artis, bernama Steve Emmnauel, berkali-kali pula menyatakan keseriusannya dan menegaskan jika keinginannya itu keluar dari hati nuraninya sendiri. Bukan paksaan siapa pun.

Akhirnya, pada hari Sabtu, 24 Mei 2008, didampingi oleh Pengacara Indra Sahnun Lubis, Steve Emmanuel mengucapkan dua kalimah syahadat di depan Habib Rizieq, puluhan anggota FPI, dan para wartawan. Setelah bersyahadat, Steve memilih nama baru “Yusuf Iman”. Menurutnya, nama tersebut dipilih Steve alias Yusuf Iman karena terinspirasi oleh Cat Steven, seorang penyanyi ternama Inggris yang kembali ke Islam dan mengubah namanya menjadi Yusuf Islam.

Alhamdulillah, saya senang, bahagia, merasa excited. Sebentar lagi mau bulan puasa, mungkin ini jadi awal yang baik untuk saya, ” ujar Yusuf Iman usai resmi mengucap dua kalimah syahadat. Kini Yusuf Iman mengisi hari demi hari dengan mendalami Islam bersama seorang Ustadz yang ditunjuk untuk membinanya.

K.H. Abdurrahman Wahid

Awal Mei 2008, Gusdur terbang ke Amerika serikat memenuhi undangan Simon Wiesenthal Center (SWC), sebuah LSM Zionis garda terdepan di AS. SWC akan menganugerahkan Medal of Valor, Medali Keberanian, buat Gusdur yang dianggap sangat berani membela kepentingan Zionis di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar dunia bernama Indonesia.

Dalam konferensi pers di Gedung PBNU Jakarta, sebelum keberangkatannya, Gusdur menyatakan bahwa kepergiannya ke AS selain untuk menerima penghargaan tersebut juga akan merayakan seklaigus mengucapkan selamat atas kemerdekaan negara Israel ke-60. Gusdur bukannya tidak tahu jika kemerdekaan Israel merupakan awal dimulainya teror, pembunuhan, pemerkosaan, pengusiran yang dilakukan teroris Zionis Yahudi terhadap ratusan ribu hingga jutaan warga Palestina yang sampai detik ini masih jutaan jumlahnya yang menjadi pengungsi di negeri-negeri sekitar tanah airnya. Tapi Gusdur telah memilih posisi sebagai sekutu Zionis-Israel, bukan Palestina.

Acara penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam istimewa yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor pro-Zionis Will Smith (The Bad Boys Movie), di Beverly Wilshire Hotel, 9500 Wilshire Blvd., Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los Angeles.

Sebagai tuan rumah adalah Rabbi Mervin Hier (Pendiri SWC dan Rabbi paling berpengaruh di AS 2007-2008), yang dengan tangannya sendiri mengalungkan medali tersebut ke leher Gusdur. Gusdur sendiri, sambil terus duduk di kursi rodanya, tersenyum dan mencium dengan penuh takzim medali tersebut. Inilah Gusdur Kyai Kontroversial yang merupakan tokoh sentral dalam AKKBB, saking kontroversialnya Gusdur menyebut menyebut Ketua PBNU Hashim Muzadi sebagai koruptor.

Pernyataan itu disampaikan Gus Dur dalam tausiyah di hadapan 500-an undangan yang hadir dalam Peringatan Seratus Tahun Kebangkitan Nasional dan Hari Lahir Pancasila di Sekretariat Pengurus Pusat GP Ansor, Jalan Kramat Raya No 65 Jakarta Pusat, Minggu (8/6/2008).

Awalnya, Gus Dur bercerita mengenai sejarah lahirnya Pancasila yang juga melibatkan organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, NU. Namun, di tengah cerita itu tiba-tiba Gusdur berujar, “Ya, itulah NU yang sekarang diketuai oleh Hasyim Muzadi, tokoh koruptor.”

Kontan saja pernyataan Gus Dur ini mengundang komentar riuh sejumlah hadirin. Bahkan tidak sedikit yang berteriak, “Ganti! Ganti!”

Gus Dur menyesalkan sikap Hasyim Muzadi sebagai ketua NU yang mendukung Ahmadiyah dibubarkan. Padahal, menurut Gus Dur, jelas bahwa warga NU itu nasionalis dan tidak setuju Ahmadiyah dibubarkan. “Dia kok malah setuju Ahmadiyah dibubarkan. Kita lihat saja nanti siapa yang menang,” tantang Gus Dur.

sumber : eramuslim.com, dan okezone.com

ternyata Gus Dur dan Munarman Punya Leluhur yang Sama

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah seorang ulama, cendikiawan muslim, dan politikus. Munarman adalah seorang mahasiswa yang kemudian menjadi aktivis organisasi nonpemerintah, lantas menjadi aktivis Islam fundamentalis. Sejarah yang berbeda. Tetapi, keduanya terlibat perdebatan mengenai Ahmadiyah. Yang satu membela, yang satunya mengecam. Tahukah Anda, keduanya sama-sama keturunan Putri Champa.

Pernyataan Gus Dur masih merupakan keturunan Putri Champa, disampaikan mantan presiden Indonesia itu beberapa waktu lalu.

Siapa Putri Champa? Kisahnya bermula dari adipati Majapahit yang menjadi pemimpin Palembang—Palembang Lamo—yakni Ario Damar. Ario Damar mendirikan kerajaan Palembang. Adipati Ario Damar berkuasa antara tahun 1455-1486. Lantaran banyak rakyat beragama Islam, Adipati Ario Damar memeluk agama Islam. Namanya berubah menjadi Ario Abdilah atau Ario Dillah.

Suatu hari, Ario Dillah mendapat hadiah perempuan dari Prabu Kertabumi Brawijaya V yakni ayahnya sendiri. Perempuan itu bernama Putri Champa, muslim dan beretnis Tionghoa-Melayu, yang sebelumnya menetap di Palembang. Putri Champa diceraikan Prabu Kertabumi Brawijaya V, lantaran keluarga besar kerajaan Majapahit tidak mau ada yang beragama Islam di lingkungan kerajaan. Read more